Monday, March 20, 2006

LOVE ISN'T BLIND

" When two people love each other, nothing is more
imperative and
delightful than giving. " - Guy de Maupassant -

Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat.
Miskonsepsi pertama
yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta
dengan menggunakan
perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan
hati. Tapi agar tidak
menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita
diharapkan untuk juga
menggunakan akal sehat.

Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan
begitu saja tanpa bisa
mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh
cinta dipengaruhi
tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan deal
kelompok dari mana kita
berasal.

Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat
apa saja saat jatuh
cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban
bila
perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk
suatu ketika nanti.

Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh
cinta, melainkan
sinyal kebodohan. Cinta membutuhkan proses, Bowman
juga menolak anggapan
cinta bisa berasal dari pandangan pertama. "Cinta
itu tumbuh dan
berkembang dan merupakan emosi yang kompleks,"
katanya.

Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan
waktu. Jadi memang tidak
mungkin kita mencintai seseorang yang tidak
ketahuan asal-usulnya
dengan begitu saja.

Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga
jatuh dari langit.
Cinta datang hanya ketika dua individu telah
berhasil melakukan
orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan
untuk memilih orang lain
sebagai titik fokus baru. Yang mungkin terjadi
dalam fenomena "cinta
pada pandangan pertama" adalah pasangan terserang
perasaan saling
tertarik yang sangat kuat bahkan sampai
tergila-gila. Kemudian perasaan
kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh
masa jeda. Dalam
kasus "cinta pada pandangan pertama", banyak
orang tidak benar-benar
mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada
konsep cinta itu
sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar
mencinta, mereka
mencintai pasangan sebagai persolinatas yang utuh.

Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi.
Bukan cinta namanya
bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga
bukan cinta bila kita
bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang
yang mencinta tidak
menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan,
tapi sebagai pasangan
untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri.
Bila kita berkeinginan
menguasai kekasih (membatasi pergaulannya,
melarangnya beraktivitas
positif, mengatur seleranya berbusana, selalu
mengkritik semua
kekurangannya) atau melulu mengalah (tidak protes
bila kekasih berbuat
buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti
kita belum siap
memberi dan menerima cinta.

Cinta itu konstruktif.
Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi
kepentingan sendiri
sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani
berambisi, bermimpi
konstruktif, dan merencanakan masa depan.
Sebaliknya dengan yang jatuh
cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak
konstruktif, dia
kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap
masalah sehari-hari.
Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi.
Impiannya pun tak mungkin
tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi
kenyataan.

Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh
dari pasangan, kita
menyukainya dalam kadar sebanding.

Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik memang
penting. Tapi bahaya bila
kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan
membencinya untuk banyak
faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati
dan memberi makna
penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik,
ketahuilah, hanya terasa
menyenangkan bila kita dan pasangan saling
menyukai personalitas
masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan
nafsu, bila kita
menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi
menyenangkan tanpa makna
apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan
saat hubungan kian
dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari
permulaan.

Cinta tidak buta, tapi menerima
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang
mencinta melihat dan
menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya
cinta, dia berusaha
menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar
sisi buruk itu
membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari
perhatian dan maksud
baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan,
kegeraman, atau rasa
jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat
buruk, orang yang
menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima
tanpa keinginan
memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat
keinginannya terpuaskan,
hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang
sangat mungkin
diperbaiki.

Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan
perkembangan hubungan
dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang
mungkin merusak
hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan
yang bisa memperkuat,
mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang
sedang tergila-gila
mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih.
Namun usaha itu
semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya,
sehingga tercapailah
kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta
menyenangkan pasangan untuk
memperkuat hubungan.

Cinta berani melakukan hal menyakitkan
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang
sungguh-sungguh
mencinta memiliki perhatian, keprihatinan,
pengertian, dan keberanian
untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih
demi kebaikan. Seperti
seorang ibu yang berkata "tidak" saat anaknya
meminta es krim, padahal
sedang flu.

Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada
pasangan....
Post a Comment